Sejarah gelar Grandmaster (GM) catur
![]() |
| Tsar Nicholas II |
Hal
ini juga menjadi faktor penarik sehingga juara dunia saat itu, Dr. Emanuel Lasker, yang lama tidak tampil sejak 1909, berkenan datang menjadi peserta. Juga hadir Jose Raul Capablanca dari Kuba yang binatang terangnya mulai bersinar sejak dua tahun sebelumnya, karena memenangkan turnamen San Sebastian 1911. Akiba Rubinstein dari Polandia juga datang yang mendapat julukan seniman permainan akhir. Frank Marshall dari Amerika yang terkenal. Begitu juga Siegbert Tarrasch, sang guru dari Jerman. Lalu, Aron Nimzovich dari Latvia dan Josep Hendry Blackburne, penyerang yang sangat ditakuti dari Inggris. David Janowski dari Perancis. Isidore Gunsberg dari Inggris. Ossip Brenstein dan pecatur muda Alexander Alekhine dari Rusia yang menjadi kebanggaan tuan rumah. Bisa dikatakan semua pecatur terkuat dunia saat itu ikut ambil bagian.
Lasker keluar sebagai juara dengan setengah angka lebih unggul dari Capablanca. Pecatur Kuba ini masih memimpin sendirian sampai babak
ke-18 dari 21 babak yang direncanakan. Kemudian dia kalah dari Lasker
dan hal itu membuat mentalnya rontok. Dia kalah lagi dalam posisi
menang ketika menghadapi Tarrasch dan menyerahkan mahkota juara kepada Lasker. Alekhine membuat kejutan dengan merebut posisi ketiga, disusul
oleh Tarrasch dan Marshal.
Pada upacara penutupan, Tsar Nicholas II menyebut kelima mereka ini, yaitu Dr. Emanuel Lasker, Jose Raul Capablanca, Alexander Alekhine, Dr. Siegbert Tarrasch dan Frank Marshall
sebagai GRANDMASTER CATUR. Mereka ini adalah Grandmaster asli pertama
dalam sejarah. Gelar ini kemudian juga diadopsi oleh FIDE dan dibuat
ketentuan dan peraturan untuk memperolehnya.
